Tradisi Ngelawar di Bali
Asal-usul tradisi ngelawar
Tradisi lawar, kerap disebut ngelawar artinya adalah membuat sayuran dan makanan yang berbahan daging dan sayur khas Bali.
Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali I Gusti Ngurah Sudiana mengatakan, ngelawar memiliki asal kata dari lawar yang artinya adalah campuran bumbu makanan.
Sementara ngelawar artinya adalah tradisi meracik bumbu masakan Bali.
Ngelawar ini berkembang sejak zaman kerajaan Bali. Biasanya ngelawar ini berkembang secara merata di sekitar kerajaan, karena Raja Bali senang sekali menikmati lawar.
Beberapa bahan lawar secara umum terdiri dari daging dan kulit yang direbus dan dibumbui gede atau bumbu lengkap.
Selain itu, lawar juga biasanya akan disertai dengan berbagai macam sate, balung dan daging lainnya.
Dalam tradisi Bali, lawar biasa dilakukan saat ada upacara Panca Yadnya sebagai persembahan dan juga untuk dimakan.
Untuk persembahan, lawar yang sudah matang akan diletakkan sesuai arah mata angin.
"Lawar putih arah timur, Dewa Iswara. Lawar merah arah selatan, Dewa Brahma. Lawar kuning arah barat, Dewa Mahadewa. Kemudian lawar hitam atau jejeruk diletakkan di arah utara, Dewa Wisnu. Lawar juga diletakkan di tengah dengan lima warna campuran, Dewa Siwa.
Seluruh rangkaian ngelawar dimuat dalam lontar dharma caruban. Untuk pelaksanaannya, ngelawar akan dipimpin oleh seorang ahli masak Bali. Ahli masak ini harus pintar dan ahli dalam mengolah bumbu makanan.
Terkait warna dalam bahan makanan yang dipilih sebagai bahan pembuat lawar,setiap warna memiliki makna tersendiri.
Putih lambang kesucian, merah lambang keberanian, kuning lambang kebijaksanaan, hitam lambang kasih sayang, dan warna campuran adalah lambang persatuan atau terpusatkan,
Isi dari lawar adalah daging yang dicampur dengan sayuran. Bumbu yang dipakai juga bukan bumbu masak yang dipakai sehari-hari, melainkan bumbu khas Bali.
"Pakai kencur, bawang putih, bawang merah, isen, jahe, sereh, cabe, dan merica. Segala yang ada itu dipakai dan dicampur. Segala bumbu jadi satu.
lawar juga berisi parutan kelapa, daging, kacang panjang, dan nangka muda yang sudah direbus dan dipotong kecil-kecil.
Lawar adalah makanan khas Bali. Oleh karena itu, lawar wajib ada di setiap upacara keagamaan.
Tidak hanya itu, kamu juga dapat menemui lawar di dalam pura dan rumah masyarakat Bali, acara pernikahan, potong gigi, upacara kematian, dan beberapa upacara lain.
Yang menjadikan lawar sebagai makanan khas adalah penggunaan darah mentah dari daging hewan yang dijadikan sebagai bahan dasar lawar.
Jika daging yang digunakan berasal dari babi, maka darah yang digunakan adalah darah babi. Sama halnya dengan penggunaan daging ayam dan daging hewan lainnya.
Biasanya darah akan direbus terlebih dahulu. Tapi tentu tidak bagus bagi kesehatan makanya belakangan ini sudah tidak pakai darah seperti itu,
Kendati demikian, tidak menampik masih ada sebagian masyarakat yang menggunakan darah dalam lawar demi menjaga keaslian lawar. Tradisi ngelawar adalah acara pembuatan makanan.
Jika beberapa masyarakat Bali sudah ngelawar, hal yang selanjutnya terjadi adalah mereka akan berpesta dan bersenang-senang. Tradisi tersebut sudah sangat melekat pada orang Bali dan tidak dapat dilepas.
Sumber: kompas.com
Komentar
Posting Komentar